Cuaca
Memuat cuaca...
Umum

Hari Batik Nasional di Taman Blambangan, Pemusik Pewangi Dapat Apresiasi Budayawan Banyuwangi

Hari Batik Nasional di Taman Blambangan, Pemusik Pewangi Dapat Apresiasi Budayawan Banyuwangi
Traktir!

Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.

 

RADARBLAMBANGANNEWS.CIM, | BANYUWANGI — Peringatan Hari Batik Nasional 2026 di Taman Blambangan Banyuwangi berlangsung dengan nuansa budaya. Pemusik Pewangi Banyuwangi yang rutin menghibur pengunjung Banyuwangi Creative Market (BCM) setiap Minggu pagi mendapat apresiasi dari budayawan Banyuwangi, Aekanu Haryono, Minggu (4/10/2026).

 

Apresiasi tersebut diberikan dalam bentuk perlengkapan busana khas Banyuwangi. Aekanu Haryono menyematkan udeng kepada penyanyi Mas Jantan. Sementara dua penyanyi perempuan, Norine Riskyandra Dwisa dan Yati Marini, mendapatkan syal yang dikalungkan langsung sebagai simbol penghargaan terhadap kiprah mereka dalam menghidupkan suasana budaya di ruang publik.

 

Pemberian apresiasi tersebut turut didampingi Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat. Momentum itu sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara musik, sastra, dan budaya Banyuwangi yang tumbuh di tengah masyarakat.

 

Dalam kesempatan tersebut, Aekanu menyampaikan tentang makna Gajah Oling, salah satu motif batik yang lekat dengan identitas budaya Banyuwangi. Menurutnya, Gajah Oling bukan sekadar motif yang menghiasi kain, tetapi memiliki nilai dan pesan budaya yang patut terus dikenalkan kepada generasi muda.

 

Gajah Oling menjadi salah satu simbol yang banyak dijumpai dalam berbagai ekspresi budaya Banyuwangi. Karena itu, pengenalan terhadap maknanya perlu dilakukan melalui berbagai ruang, termasuk kegiatan seni dan budaya yang berlangsung di tengah masyarakat.

 

Pemusik Pewangi Banyuwangi selama ini menjadi bagian dari suasana Minggu pagi di Taman Blambangan. Mereka hadir secara rutin membawakan lagu-lagu, termasuk lagu daerah Banyuwangi, sehingga musik daerah tetap terdengar di tengah keramaian masyarakat.

 

Keberadaan kelompok musik tersebut dinilai memiliki arti penting dalam upaya memperkenalkan dan mengembangkan lagu-lagu daerah Banyuwangi. Musik tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi jalan untuk menjaga ingatan masyarakat terhadap bahasa, tradisi, dan identitas daerah.

 

Ketua BCM Rahmat Hidayat menyampaikan apresiasi atas keterlibatan para seniman dan budayawan dalam kegiatan di Taman Blambangan. Menurutnya, kehadiran seniman memberikan warna tersendiri bagi aktivitas Banyuwangi Creative Market.

 

Hal senada disampaikan Ketua Rumah Kebangsaan, Hakim Said. Menurutnya, ruang publik seperti Taman Blambangan dapat menjadi tempat bertemunya masyarakat, pelaku UMKM, seniman, dan budayawan.

 

Apresiasi terhadap Pemusik Pewangi tersebut menjadi bagian kecil dari upaya merawat kebudayaan Banyuwangi. Di tengah hiruk-pikuk perdagangan dan hiburan Minggu pagi, lagu-lagu daerah tetap mengalun, sementara simbol budaya seperti udeng, syal, dan motif Gajah Oling kembali diperkenalkan kepada masyarakat.

 

Hari Batik Nasional akhirnya tidak hanya diperingati melalui selembar kain. Di Taman Blambangan, peringatan itu menemukan bentuk lain: musik yang dimainkan, lagu daerah yang dinyanyikan, simbol budaya yang dikenalkan, serta penghargaan kepada mereka yang terus menjaga denyut kesenian Banyuwangi.***

⚠ Disclaimer

Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

BERITA PILIHAN