MAKI Jatim di Hari ke-13 Berbagi 1000 Tajil Sebagai Zikir Sosial: Ketika Iman Menjadi Kemanusiaan
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.
Di antara lalu-lalang kendaraan di Jalan Raya Kota Sidoarjo, tepatnya di Alun Alun Sidoarjo (Depan Monumen Jayandaru) tangan-tangan yang tergerak oleh kasih membagikan seribu paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas. Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket nasi campur oseng tahu, telur dadar dan sambel serta krupuk, 250 paket kurma; 250 botol es sirup melon berisi blewah; serta 250 paket jajanan jadul yang terbungkus sederhana namun sarat makna.
Namun Ramadhan tak pernah berhenti pada angka dan jumlah. Ia menembus apa yang tak kasat mata. Setiap paket yang berpindah tangan bukan sekadar makanan pembuka, melainkan saksi bahwa harta hanyalah titipan, dan manusia hanyalah penjaga sementara dari amanah-Nya. Memberi dalam bulan suci bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan laku ibadah jalan sunyi menuju makrifat, mengenal bahwa segala yang ada berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Puasa melatih sabar dalam menahan lapar dan dahaga; berbagi menumbuhkan ikhlas dalam melepaskan kepemilikan. Ketika sabar dan ikhlas bersatu, lahirlah kesadaran bahwa hidup bukan tentang mengumpulkan sebanyak-banyaknya, melainkan memaknai sedalam-dalamnya. Lapar yang ditahan melembutkan hati agar mampu merasakan getirnya kehidupan orang lain. Dahaga yang dijaga menjadi jembatan empati, agar manusia tak lagi berjalan sendiri dalam egonya.




Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur atas nikmat Allah SWT. Syukur yang hakiki tidak berhenti pada ucapan, tetapi menjelma menjadi tindakan. Sebab setiap kesempatan untuk berbagi sejatinya adalah panggilan Ilahi bahwa Allah memilih sebagian hamba-Nya menjadi perantara rahmat bagi yang lain.
Sebagai lembaga yang menyerukan integritas dan keadilan, MAKI memahami bahwa Ramadhan adalah cermin besar bagi jiwa. Korupsi bukan hanya soal pelanggaran hukum, melainkan kegagalan hati menjaga kesadaran bahwa Allah Maha Melihat. Ketika makrifat memudar, keberanian untuk menyimpang tumbuh. Namun ketika kesadaran ketuhanan berdenyut dalam setiap helaan napas, integritas lahir sebagai buah ketakwaan bukan karena takut padamu manusia, melainkan karena malu kepada-Nya.
Menjelang adzan Maghrib, langit senja menunduk dalam semburat jingga. Doa-doa bergetar di bibir yang berpuasa. Wajah-wajah penerima ta’jil memancarkan syukur yang tulus. Yang diterima mungkin hanya makanan sederhana, tetapi yang terasa adalah sentuhan kasih rasa dihargai sebagai sesama makhluk Allah yang dimuliakan.
Pada akhirnya, yang bernilai di sisi-Nya bukanlah banyaknya yang dibagikan, melainkan beningnya niat yang tersembunyi di dalam dada. Ramadhan adalah perjalanan pulang menuju fitrah menyadari bahwa segala yang kita genggam hanyalah titipan, dan segala yang kita ikhlaskan akan menjadi cahaya yang menerangi jalan kembali.




Di antara derap langkah senja Alun Alun Kota Sidoarjo, terselip pesan makrifat yang hening namun agung: kemuliaan manusia tidak terletak pada apa yang ia kumpulkan, tetapi pada apa yang ia relakan demi ridha-Nya. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati