Selamat Jalan, AWI: Jejak Pengabdian Sang Ketua DPRD Surabaya yang Berpulang dalam Dekapan Roh Kudus
Traktir!
Apakah berita ini bermanfaat? Dukung kerja jurnalistik Radar Blambangan dengan traktir.
Pesan duka itu beredar melalui WhatsApp, menyusup dari satu sahabat ke sahabat lain, dari satu ruang percakapan ke ruang hati yang terdalam.
“Mohon doa untuk ketenteraman arwah beliau,” demikian bunyi pesan yang tersebar di kalangan sahabat dekatnya. Kalimat sederhana, namun sarat makna kehilangan.
Bagi banyak orang, ia adalah Ketua DPRD Surabaya. Bagi kader partai berlambang banteng moncong putih, ia adalah pejuang ideologis. Bagi rekan-rekan jurnalis, ia tetaplah AWI sapaan akrab yang melekat erat, sederhana, dan penuh kehangatan.




Kabar wafatnya tokoh kelahiran Blitar, 4 Agustus 1968 itu dibenarkan oleh Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji. Duka tidak hanya menyelimuti keluarga dan kolega terdekat, tetapi juga merambat ke lorong-lorong politik dan ruang-ruang diskusi publik di Surabaya.
Sebab yang pergi bukan sekadar seorang pejabat, melainkan sosok yang menapaki perjalanan panjang dari ruang redaksi menuju kursi legislatif.
AWI adalah potret tentang konsistensi dan transformasi. Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga Surabaya itu mengawali kariernya sebagai jurnalis. Tiga tahun setelah menyandang gelar sarjana ilmu politik, ia masuk ke dunia pers. Tahun 1996 hingga 2000, ia menjadi bagian dari Harian Surya Surabaya. Di sana, ia belajar membaca realitas, menyelami denyut masyarakat, dan merangkai fakta menjadi makna.
Semangat jurnalistiknya membawanya ke Majalah Tempo pada periode 2000–2003. Di media nasional itu, cakrawala berpikirnya semakin luas. Ia menyaksikan dari dekat dinamika kekuasaan, pergulatan kebijakan, serta kompleksitas demokrasi Indonesia pasca-reformasi. Namun pada 2003, AWI mengambil keputusan besar: banting setir dari pengamat kekuasaan menjadi pelaku politik.




Ia resmi bergabung dengan PDI Perjuangan pada tahun 2003. Keputusan itu bukan langkah sesaat, melainkan pilihan ideologis yang ia yakini. Di partai tersebut, karier politiknya berkembang pesat. Konsistensinya membangun basis, merawat kader, dan menguatkan struktur organisasi membuatnya dipercaya menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya.
Sejak 2012, ia duduk sebagai anggota DPRD Surabaya. Dari periode ke periode, kepercayaan rakyat mengantarkannya pada posisi strategis. Puncaknya, ia menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya untuk masa bakti 2019–2024, dan kembali dipercaya untuk periode 2024–2029. Di kursi pimpinan legislatif itulah namanya semakin dikenal luas.
Sebagai Ketua DPRD, AWI dikenal lugas, komunikatif, dan terbuka terhadap dialog. Latar belakangnya sebagai jurnalis membuatnya piawai menyampaikan gagasan sekaligus mendengar kritik. Ia memahami bahwa politik bukan sekadar perebutan posisi, melainkan ruang pengabdian yang menuntut keberanian dan kerendahan hati sekaligus.
Perjalanan politiknya tidak selalu mulus. Pada 2 Mei 2025, Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan mencopotnya dari jabatan Ketua DPRD Surabaya menyusul turunnya perolehan suara pada Pemilu 2024. Bagi sebagian orang, itu adalah pukulan telak. Namun bagi AWI, dinamika politik adalah bagian dari konsekuensi perjuangan. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai Ketua DPRD Surabaya hingga akhir hayatnya, menuntaskan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya.




Hingga Selasa malam itu tiba.
Kepergian AWI meninggalkan jejak panjang yang tak mudah dilupakan. Ia adalah figur yang menapaki tiga dunia: akademik, jurnalistik, dan politik dan menjahit semuanya dalam satu benang pengabdian. Dari ruang kuliah FISIP Unair, ruang redaksi Harian Surya dan Tempo, hingga ruang sidang DPRD Surabaya, ia hadir sebagai pribadi yang berproses, belajar, dan berjuang.
Kini, perjalanan itu telah sampai pada garis akhirnya di dunia. Namun jejaknya akan tetap tertinggal dalam arsip-arsip kebijakan, dalam ingatan rekan-rekan seperjuangan, dalam kenangan para jurnalis yang pernah satu meja liputan, serta dalam catatan sejarah politik Surabaya.
Surabaya kehilangan seorang putra terbaiknya. PDI Perjuangan kehilangan salah satu kadernya. Dunia jurnalistik kehilangan seorang sahabat lama. Dan banyak orang kehilangan sosok AWI yang ramah dan bersahaja.




Selamat jalan, Dominikus Adi Sutarwijono. Doa-doa mengiringi kepergianmu. Semoga Tuhan Yang Maha Esa menerima segala karya dan pengabdianmu, serta menganugerahkan ketenteraman abadi dalam dekapan Roh Kudus. (Bagas)
⚠ Disclaimer
Seluruh wartawan Radar Blambangan dibekali KTA, surat tugas, dan namanya tercantum di Box Redaksi. Apabila ada pihak yang mengaku sebagai wartawan Radar Blambangan namun namanya tidak tercantum di Box Redaksi, maka hal tersebut bukan menjadi tanggung jawab Redaksi Radar Blambangan.
Bagi pihak yang merasa ragu atau membutuhkan konfirmasi, silakan hubungi kami dengan klik di sini.
Bagikan:
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
BERITA PILIHAN
Dugaan Kekerasan Seksual di TPQ Sambikerep, Polrestabes Surabaya Resmi Terima Laporan Korban
Kuasa Hukum Ungkap Petunjuk Baru, Polda Gorontalo Perluas Operasi Pencarian Eca
Wabup Pohuwato Nyatakan Siap Turun Bersama Massa, Besok Dijemput di Kantor Bupati